PENDEKATAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI. LENGKAP TERPERCAYA
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan
sosiologi dan antropologi di Indonesia awalnya hanya sebagia ilmu pembantu dan
bukan menjadi ilmu utama yang bersifat penting, namun saat ini ilmu sosiologi
dan antropologi tidak dapat dilepaskan dari praktek kehidupan bermsayarakat.
Dampak dari ilmu sosiologi dan antropologi yang dirasakan secara global yaitu
meningkatnya peradaban dalam masyarakat maupun bangsa dan Negara.
Di
Indonesia sendiri ilmu antropologi dan sosiologi berkembang pesat seiring
dengan perkembangan jaman dan masalah yang dihadapi semakin kompleks. Ilmu
sosiologi dan antropologi merupakan ilmu social yang saling berkaitan, terlebih
dalam praktek penelitian social dilapangan.
Kebanyakan
antropolog sependapat bahwa antropologi mucul sebagai suatu cabang keilmuwan
yang jelas batasannya pada sekitar pertengahan abad kesembilan belas, tatkala
perhatian orang pada manusia mulai berkembang. Setiap arkeolog memiliki alasan
sendiri-sendiri untuk menentukan kapan antropologi itu dimulai. Namun yang menjadi
kesepakatan antropologi adalah ilmu yang membahas manusia sebagai kajian atau
objek utamanya. Sementara sosiologi, pada mulanya berkembang pada saat terjadinya revolusi Prancis dan
revolusi industry yang terjadi sepanjang
abad ke 19 yang menimbulkan kekhawatiran kecemasan sekaligus perhatian dari
para pemikir waktu itu tentang dampak yang ditimbulkan dari perubahan dahsyat
dibidang politik dan ekonomi kapitalistik dimasa itu. Banyak ahli yang sepakat
bahwa faktor yang melatarbelakangi kelahiran sosiologi adalah karena adanya
krisis-krisis ysng terjadi dalam masyarakat.
Pendekatan antropologi
dan sosiologi tersebut. Ini menunjukkan bahwa pendekatan antroplogi dan
sosiologi merupakan kajian ilmu yang sangat penting dalam penelitian agama.
Melalui pendekatan
antropologi dan sosiologi dapat diketahui sebab akibat dari serangkaian
peritiwa yang terjadi. Antropologi berupaya melihat antara hubungan manusia dan
kebudayaannya sedangkan sosiologi melihat hubungan interaksi yang terjadi dan
merupakan hasil kebiasaan dalam norma, nilai social yang berlaku disuatu
daerah
1.2 Rumusan Masalah
Dari permasalahan diatas dapat ditarik rumusan
masalah sebagai berikut :
1)
Apa
itu pendekatan Antropologi dan sosiologi?
2)
Apa saja objek kajian dalam
pendekatan antropologi dan sosiologi?
3)
Apa saja macam ilmu sosiologi?
4)
Bagaimana pengaruh antara pendekatan
antropologi dan sosiologi terhadap kehidupan?
1.3 Tujuan Penulisan
1)
Untuk
mengetahui tentang apa itu pendekatan antropologi dan sosiologi
2)
Untuk
mengetahui objek dan contoh dari pendekatan antropolgi dan sosiologi
3)
Untuk
mengetahui bagaimana keterkaitan antara pendekatan antropologi dan sosiologi
dalam studi islam.
1.4 Manfaat Penulisan
1)
Menambah
wawasan pambaca mengenai pendekatan antropologi dan sosiologi dalam studi islam
2)
Dapat
menjadi refrensi tambahan bagi peneliti lainnya mengenai tema terkait
3)
Dapat
menjadi bahan kajian ulang mengenai tema terkait
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Antropologi
Menurut
KBBI antropolgi adalah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka
warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lalu. Secara
etimologis, antropologi berasal dari dua kata Yunani, yaitu antropos berarti
manusia, baik dalam arti bahasa yaitu
individu maupun dalam pengertian umum tercakup semua aktifitas pola dan
lakunya; dan logos yang berarti pemahaman atau ilmu. Jadi dapat dirumuskan
bahwa antropologi adalah suatu disiplin ilmu yang mucul karena dorongan ingin
tahu manusia terhadap dirinya dan setiap kegiatan serta pola laku yang terkait
dengannya.
Antropologi
mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial.,
antropologi memilki dua sisi holistik dimana ia
meneliti manusia pada tiap waktu dan dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah
yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan
lainnya yang menekankan pada perbandingan/perbedaan budaya antar manusia. Sebagai salah satu cabang ilmu antropologi
juga sebuah studi yang mempelajari tentang budaya yang ada pada kalangan masyarakat
dalam suatu etnis tertentu. Tentunya antropologi lebih menitikberatkan pada
personal dan kesatuan penduduk yang merupakan masyarakat tunggal. Tunggal dalam
artian merupakan masyarakat atau penduduk yang tinggal dalam satu daerah yang
sama. Jadi, pendekatan antropologi adalah pendekatan yang dilakukan dengan
memandang aspek manusia dan memerhatikan dimensi kemanusiaannya secara urut,
serta mempelajari tentang budaya masyarakat pada suatu daerah atau etnis.
2.2 Objek Kajian Antropologi
Antropologi mencakup banyak aspek
kehidupan manusia. Oleh karena itu spesialisasinya pun bermacam-macam. Salah
satu pembagian antropologi, adalah yang diketengahkan oleh Koentjaraniggrat,
sebagai berikut :
Antropologi : - Antropologi Fisik
- Antropologi Budaya : 1. Arkeologi
2. Etnologi
3. Antropologi linguistik
4. Etnologi
Antropologi : - Antropologi Fisik
- Antropologi Budaya : 1. Arkeologi
2. Etnologi
3. Antropologi linguistik
4. Etnologi
Dari pembagian di atas,
nampak bahwa antropologi memiliki objek kajian yang mencakup beberapa kategori
ilmu pokok, yaitu antropologi fisk dan antropologi budaya.
1. Antropologi Fisik
Dalam arti luas, antropologi fsik mencakup
paleo antropologi dan antropologi fisik dalam arti khusus.
a. Paleo antropologi adalah bagian yang membahas tentang asal-usul soal
terjadinya manusia termasuk proses evolusinya. Untuk memenuhi tugasnya,
fosil-fosil manusia digunakan sebagai bahan penelitian. Fosil-fosil ini
terdapat dalam lapisan-lapisan bumi yang didapat oleh para arkeolog melalui
berbagai teknik dan cara penggalian.
b. Antropologi fisik.
Antropologi fisik dalam arti khusus, yaitu
bagian antropologi yang berupaya memperoleh pemahaman tentang sejarah
terjadinya keanekaragaman manusia, mencakup ciri-ciri tubuh baik yang nampak
seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk muka, tubuh dsb.
2. Antropologi Budaya
a. Arkeologi
Merupakan bagian antropologi budaya yang
mempelajari kebudayaan yang telah sirna, terutama sejarah perkembangan dan
penyebaran kebudayaan pada masa prehistori.
Dalam lingkup ilmu pengetahuan, masa prehistori adalah masa dimana suatu bangsa
belum mengenal huruf.
b. Etnografi
Merupakan sarana bantu antropologi budaya yang
memberikan pelukisan tentang bangsa-bangsa terutama yang menyangkut adat
kebiasaan masyarakatnya. Secara etimologi, etnografi terdiri dari dua kata
yaitu etnos artinya bangsa, dan grfai artinya lukisan/gambaran.
c. Etnologi
Secara etomologi, etnologi terdiri dari dua
kata yaitu etnos dan logis (bangsa dan ilmu). Jadi, ia dapat dirumuskan sebagai
acabang ilmu antropologi budaya yang mempelajari bangsa-bangsa. Sekarang
etnologi dikenal sebagai ilmu yang berusaha memahamai perbedaan cara berpikir
dan berperilaku yang sudah membaku/mengkristal serta melacak sebab perbedaan
itu. usahanya mencakup usaha pemahaman pola-pola kelakuan seperti adat
istiadat, perkawinan, struktur kekerabatan, sistem politik, ekonomi, dana
agama, juga memerhatikan dinamika kebudayaan yang berkembang dan berubah.
Etnologi menurut Koentjaraninggrat telah berkembang menjadi 2 aliran, yaitu
golongan yang menekankan bidang diakhronik dan golongan yang menekankan bidang
sinkhronik.
Diakhronik berarti berturut-turut dalam
perjalanan waktu. Nama yang sudah disepakati umum untuk bidang ini belum ada,
namun ada yang mengemukakan istilah “descriptive integration” bagi
penelitian-penelitian diakhronik di samping istilah etnologi dalam arti khusus
baginya. Ia mengolah dan mengintegrasikan hasil-hasil penelitian dari berbagai
antropologi fisik, etnolingustik, arkeologi dan etnologi. Dan sinkhronik
berarti berdampingan dalam satu waktu. Para sarjana menggunakan istilah
“generalizing aproach” baginya, disamping antropologi sosial, ia berusaha
mencari persamaan di belakang keanekaragaman yang ada dalam berbagai masyarakat
dari kelompok-kelompok manusia di muka bumi..
d. Antropologi Linguistik
Bagian ini sering disebut etnolinguistik,
yaitu bagian antropologi budaya yang mempelajari bahasa, khususnya yang
berkaitan dengan sejarah dan struktur bahasa-bahasa yang tidak tertulis. Dengan
kata lain, ia mempelajari timbulnya bahsa dan bagaiaman terjadinya variasi
bahasa-bahasa itu dalam jangka waktu yang berabad-abad.
3. Antropologi Psikologi
Antropologi psikologi merupakan bidang yang
mengkaji tentang hubungan antara individu dengan nilai kebiasaan sosial dari
sistem budaya yang ada. Ruang lingkup antropologi psikologi sangat luas dan
menggunakan berbagai pendekatan untuk masalah yang muncul dalam interaksi
antara nilai, pemikiran dan kebiasaan sosial. Fokus kajian antropologi
psikologi adalah kedekatan individu dalam masyarakat yang dihubungkan dengan
psikologi. Bisa kita bilang ini adalah sangat besar kaitannya dengan cabang
cabang psikologi lainnya seperti psikologi organisasi.
4. Antropologi Spesialisasi
Antropologi spesialisasi dibagi menjadi banyak
keilmuan, antara lain:
a. Antropologi Kesehatan
Antropologi kesehatan merupakan keilmuan yang
membahas pengaruh unsur-unsur budaya terhadap penghayatan masyarakat mengenai
penyakit dan kesehatan.
b. Antropologi Ekonomi
Antropologi Ekonomi adalah bidang kajian
antropologi yang mempelajari gejala ekonomi dalam kehidupan masyarakat dengan
melihat gaya hidup manusia dan sistem pencarian makanan secara subtantif.
c. Antropologi Perkotaan
Antropologi Perkotaan menggunakan pendekatan
antropologi untuk membahas masalah
perkotaan. Masalah perkotaan muncul dan berkembang menjadi ciri dari hakekat kota itu sendiri.
d. Antropologi Kependudukan
Antropologi Kependudukan mempelajari cara
mengatasi masalah-masalah kependudukan. Beberapa kendala yang menghambat
kelancaran program kependudukan antara lain, latar belakang dan kondisi sosial
budaya masyarakat.
e. Antropologi Pendidikan
Antropologi Pendidikan bermanfaat untuk
mengasah kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, dalam menganalisa, mensintesa, dan
mengevaluasi topik-topik di sekitar antropologi.
f. Antropologi Hukum
Antropologi Hukum berkaitan dengan suatu norma
sosial adalah hukum. Jika terjadi pelanggaran atau tindakan yang bertentangan
dengan norma sosial maka pelanggar akan diberikan sanksi.
g. Antropologi Sosial
Salah satu studi ilmu antropologi yang
mempelajari kebudayaan masyarakat dalam suatu etnis. Ilmu ini mempelajari manusia
dari sisi keragaman fisik seperti perilaku, tradisi, serta nilai – nilai budaya
yang berbeda. Sehingga, dapat dikatakan bahwa antropologi sosial mempelajari
tentang apa saja yang terjadi dalam kehidupan manusia.
h. Antropologi Forensik
Antropologi forensik merupakan antropologi
terapan yang menggabungkan ilmu antropologi fisik atau yang biasa disebut
biologi, dengan ilmu Osteologi dan Ondotologi. Kedua ilmu tersebut mempelajari
tentang kondisi tulang dan gigi. Kemudian, antropologi forensik berkaitan
dengan pengguaan osteologi dan odontologi dalam identifikasi mayat.
i. Antropologi Pembangunan
Dalam kajian antropologi, pembangunan adalah
bagian dari kebudayaan. Pembangunan sendiri menandai eksistensi dari beberapa
tindakan manusia. Sedangkan kebudayaan adalah sebuah pedoman untuk manusia
bertindak. Dengan demikian, berdasarkan prespektif antropologi, pembangunan
dinilai memiliki tujuan untuk membangun masyarakat serta peradaban manusia
j. Antropologi Terapan
Antropologi Terapan merupakan tempat keterampilan,
pengetahuan dan sudut pandang ilmu antropologi. Antropologi Terapan digunakan
untuk mencari solusi dari masalah-masalah praktis kemanusiaan serta
menfasilitasi pembangunan manusia. Antropologi Terapan berkaitan dengan masalah
nyata dan berbagai kebutuhan kelompok sosial di masa kini seperti masalah
pengangguran konflik kelompok etnis, bencana alam, kemiskinan struktural,
ethnic cleancing dan sebagaimnya. Antropologi terapan diketahui, dipelajari dan
diaplikasikan dengan menyesuaikan situasi kajian.
2.3 Metode dan Teknik Penelitian Antropologi
Metode adalah cara atau jalan yang harus ditempuh untuk memperoleh
kebenaran (ilmu/teori). Dalam lingkup hidup, metode dengan teknikteknik
ilmiahnya berusaha untuk memberikan gambaran dan keterangan tentang
gejala-gejala dari objek yang diteliti, bahkan dapat juga menguji kebenaran
konklusi dari penelitian sebelumnya.
Karl Pearson berpendapat
bahwa kesatuan dari ilmu-ilmu terletak pada metodenya, bukan dalam materinya.
Dengan kata lain, walaupun objek yang diteliti disiplin ilmu yang satu dengan
lainnya bebeda, namun sebagai disiplin ilmu yang terikat pada nilai-nilai
tertentu, maka metode yang digunakan secara umum adalah sama.
Dalam ilmu sosial, metode yang digunakan banyak sekali yang tumpang tindih
dan meiliki kemiripan. Walaupun aspek yang dikaji berbeda, sehingga hasil yang
didapatkan pun sering berbeda.
Biasanya, ada beberapa langkah umum
yang harus dilaksanakan oleh para ilmuwan/ peneliti dalam menjalankan tugasnya,
yaitu :
1. merumuskan
masalah yang akan diteliti. Problem atau masalah penelitian hanyalah merupakan
problem yang terbatas, sehingga ia dapat di teliti. Perumusan masalah harus
tajam dan terarah melalui pembatasan aspek-aspek yang akan dikaji
2. merumuskan
hipotesa. Hipotesa merupakan jawaban sementara yang diduga sebagi jawaban
terhadap masalah yang dirumuskan. Benar tidaknya hipotesa harus diuji melalui
penelitian ilmiah. Dalam merumuskan hipotesa,, peneliti dapat menggunakan
sejumlah teknik dan sumber, antara lain:
a. teknik observasi elementer atau sederhana yang bersumber dari
pengalaman hiudp, baik dari peneliti itu sendiri ataupun dari peneliti yang
lain.
b. pengalaman kualitatif dari orang lain, seperti yang dinyatakan
dalam legenda, hikayat lama, serta beranek amacam tulisan tentang masa lampau,
surat-surat memorandum atau buku harian.
c. melihat dan memeriksa hasil penelitian terdahulu yang merupakan
hasil kerja peneliti-peneliti terdahulu tantang masalah serupa, yang dilaporkan
dalam jurnal, monografi , majalah-majalah ilmiah lainnya.
d. sumber-sumber lain seperti, data sensus, informasi dari museum
atau informasi-informasi pendahuluan yang diterima dari penelitian sebelumnya
3. peneliti,
baik sendiri maupun tim membuat perencanaan rangcangan penelitian yang mencakup
antara lain garis besar dari apa yang akan diteliti, data apa yang akan dilihat
untuk dapat memberi keterangan yang memadai, dimana dan bagaimana data itu
dikumpulkan, diproses dan dianalisa.
4. langkah
pengumpulan data. Untuk mengumpulkan data peneliti secara prinsip harus
menyesuaikan diri dengan rancangan penelitian yang sudah ditetapkan. Walaupun
demikian, kadang harus berani mengubah rancangan penelitian untuk menyesuaikan
diri dengan sejumlah kesulitan yang timbul dilapangan; yang sebelumnya tidak
terlihat dan tidak diperkirakan.
Khususnya
dalam ilmu social, dikenal jenis
penelitian, yaitu :
Ø Penelitian Deskriptif, yaitu peneliti melalui penelitiannya
berupaya memberikan gambaran yang luas tentang objek yang diteliti, tapa
memebrikan penafsiran terhadap penggambaran itu. Agar gambaran yang diberikan
memenuhi syarat, maka sampel yang diteliti, yang diambil dari populasi harus
bersungguh-sungguh reresentatif terhadap populasi.
Ø Penelitian terangan, yaitu peneliti yang ebusaha memebrikan
keterangan tentang saling hubungan diantara variable-variabel yang diteliti.
Dengan kata lain, ia berusaha menjelaskan mengapa suatu gejala adalah begini
dan begitu.
Ø Penelitian Menguji. Disini peneliti melalui penelitiannya ingin
menguji kebenaran teori atau kesimpulan dari penelitian terdahulu, dalam bidang
dan masalah yang sama. Untuk itu, maka persyaratan representative sangat
dibutuhkan.
Terlepas dari
jenis penelitian yang akan dijalankan peneliti, maka ia harus berusaha
memperoleh sebanyak mungkin informasi yang relevan dengan masalah yang
diteliti. Ada beberapa pendekatan umum, yang biasa digunakan dalam ilmu social,
yaitu :
i.
Pendekatan
Historis. Dengan pendekatan ini peneliti melacak aliran peristiwa-peristiwa
yang pernah dialami manusia, termasuk proses pengembangan kebiasaan, institusi
atau pemikiranppemikiran sepanjang sejarah. Disamping itu, data dapat juga
diperoleh dari laporan-laporan histori dan dokumen-dokumen yang relevan.
Biasanya, pendekatan ini mencakup dua langkah, yaitu :
a. Menelusuri tahap-tahap utama dari proses perubahan yang ada
b. menjelaskan alasan-alasan pokok mengapa perubahan-perubahan itu
terjadi. Pendekatan ini dapat digunakan sendiri ataupun dapat dikombinasi
dengan pendekatan-pendekatan lain, seperti pendekatan studi khusu.
ii.
Pendekatan
Studi Khusus, pendekatan ini menyangkut kajian tentang satu hal atau lebih
secara intensif, yang harus dipandang cukup representative dan tipikalterhadap
permasalahan yang diteliti. Pendekatan ini, disamping digunakan dalam
pene;itian social, juga sering dikritik karena hasilnya sering sulit memberikan
kesimpulan yang daapt berlaku umum. Walaupun demikia, pendekatan ini dapt
memeberikan nilai guna yang sangat ebrati dalam penyusunan hipotesa, yang
kemudian dapat diuji dengan penelitian yang menggunakan metode lain.
iii.
Pendekatan
survey lapangan. Pendekatan ini menyangkut pengumpulan data tangan pertama di
lapangan yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain :
I.
Observasi
dan wawancara pribadi. Observasi seperti ini harus dilakukan dengan hati-hati
untuk tidak terkecoh oleh manipulasi pemberian informasi langsumg oleh para
responden
II.
Observasi
melalui partisipasi.
Peneliti dalam usaha untuk mengumpulkan informasi yang lebih
berguna, memasukkan dirinya sebagai bagian dari situasi yang diteliti. Walaupun
cara ini sangat membantu, namun penggunaannya harus dengan ketelitian yang
sangat serta kelemahannya untuk embatasi peneliti untuk tidak jatuh secara
emosional dalam situasi tersebut.
III.
Menggunakan
lembaran pertanyaan untuk memperoleh informasi. Ini dapat dilakukan dalam
masyarakat yang mengenal tulisan
2.4 Pengertian Sosiologi
Menurut KBBI sosiologi adalah pengetahuan
atau ilmu tentang sifat, perilaku, dan perkembangan masyarakat; ilmu tentang
struktur sosial, proses sosial, dan perubahannya;
Sosiologi sendiri secara etimologi berasal
dari bahasa latin yaitu socius dan logos. Socius berarti kawan,
sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan. Hal ini diungkapkan untuk
pertama kalinya oleh Auguste Comte, seorang sosiolog dan juga biasa disebut
sebagai bapak sosiologi dunia, banyak pula yang menyebutkan bahwa bapak
sosiologi adalah Ibnu Khaldun, seorang ilmuan muslim. Berbagai macam definisi
tentang apa itu ilmu sosiologi, namun banyak orang mengartikan bahwa ilmu
sosiologi itu adalah sebuah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang
masyarakan ataupun manusia sebagai objek utamanya.
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hidup
bersama dalam masyarakat, dan menyelidiki ikatan-ikatan antara manusia yang
menguasai kehidupan itu. Sementara itu, Soerjono Soekarno mengartikan sosiologi
sebagai suatu ilmu pengetahuan yang membatasi diri terhadap persoalan
penilaian. Sosiologi tidak menetapkan kearah mana sesuatu seharusnya berkembang
dalam arti memberi petunjuk-petunjuk yang menyangkut kebijaksanaan
kemasyarakatan dari proses kehidupan bersama tersebut. Jadi kalau diambil
kesimpulan arti dari pendekatan sosiologi tersebut adalah suatu landasan kajian
sebuah studi atau penelitian untuk mempelajari hidup bersama dalam masyarakat.
Adapun beberapa ciri-ciri dari ilmu sosiologi adalah
sebagai berikut :
1. Empiris, yaitu didasarkan pada observasi
(pengamatan) dan akal sehat yang hasilnya bukan sebuah spekulasi atau prasangka
atapun dugaan.
2. Teoritis, yaitu selalu menyusun abstraksi dari
hasil observasi yang dilakukan dan abstraksi tersebut merupakan kerangka dari
unsur-unsur yang tersusun secara logis dan bertujuan menjalankan sebab akibat
sehingga menjadi sebuah teori.
3. Kumulatif, disusun atas teori-teori yang sudah
adakemudian diperbaiki serta menginovasi teori yang sudah ada agar lebih luas.
4. Nonetis, pembahasan suatu objek atau masalah,
tidak membahas apakan permaslahan yang dikaji itu baik ataupun buruktetapi
lebih menekankan pada menjelaskan permasalahan itu secara detail.
Dalam sosiologi ada pranata sosial. Pranata
adalah sistem norma ataupun aturan mengenai perilaku manusia , sedangkan social
adalah mmasyarakat itu sendiri. Jadi pranata sosial adalah semacam
kaidah-kaidah aturan yang dipahami serta ditaati oleh masyarakat serta
bertujuan mengatur kehidupan masyarakat agar terciptanya keamanan dan
ketentraman.
2.5 Cabang - Cabang Sosiologi
Sosiologi yang berkembang dalam masyarakat memiliki beberapa cabang yang
disesuaikan dengan bidang keilmuannya. Berikut ini kita akan membahas beberapa
cabang sosiologi.
1.
Sosiologi Pendidikan
Sosiologi pendidikan adalah cabang sosiologi yang diterapkan untuk
memecahkan masalah - masalah pendidikan yang fundamental. Masalah - masalah itu
muncul sebagai akibat perubahan zaman, seperti perubahan masyarakat dari
pertanian menuju adanya berbagai sarana pendidikan, seperti gedung sekolah,
buku - buku pelajaran dan fasilitas lainnya.
2.
Sosiologi Agama
Dalam
sosiologi agama dipelajari beberapa materi yang meliputi perilaku manusia yang
berhubungan dengan keyakinan yang dipeluknya, peranan agama sebagai pranata
sosial, peranan agama dalam perubahan masyarakat, dan peranan agama sebagai
agen pengendalian sosial.
3.
Sosiologi Hukum
Sosiologi hukum mempelajari kaitan antara fenomena yang terjadi dalam
masyarakat dengan hukum, antara lain perilaku masyarakat dalam hubungannya
dengan hukum yang berlaku, peranan hukum dalam masyarakat, dan lembaga - lembaga
yang berkaitan dengan hukum yang ada dalam masyarakat.
4.
Sosiologi Keluarga
Sosiologi keluarga membahas kegiatan atau interaksi antara fenomena yang
terjadi dalam masyarakat dengan keluarga. Hal ini dipelajari dalam sosiologi
keluarga antara lain peranan keluarga dalam masyarakat, peranan keluarga dalam
perubahan sosial, dan beberapa bentuk keluarga yang ada dalam masyarakat.
5.
Sosiologi Industri
Sosiologi industri mengkaji hubungan antara fenomena sosial yang terjadi
dalam masyarakat dengan kegiatan industri. Peranan industri dalam perubahan
sosial, aktivitas yang berhubungan dengan kegiatan pokok ekonomi (produksi,
distribusi, dan konsumsi), serta hubungan industri dengan berbagai struktur
yang ada dalam masyarakat.
6.
Sosiologi Pembangunan
Cabang sosiologi ini mengkaji masyarakat dan segala pola aktivitasnya di
alam pembangunan. Sosiologi menghendaki pembangunan yang dilaksanakan di
masyarakat tidak hanya mengejar aspek materiilnya saja, melainkan juga
memerhatikan masyarakat yang ada di sekitarnya. Beberapa materi yang dipelajari
dalam sosiologi pembangunan antara lain pengaruh pembangunan dalam perubahan
sosial, peranan pembangunan dalam kehidupan masyarakat, dan peranan pembangunan
terhadap perekonomian masyarakat.
7.
Sosiologi Politik
Sosiologi politik mempelajari tentang fenomena politik dengan mengaitkan
variabel sosial dan variabel politik dalam wujud saling keterkaitan antara
struktur sosial dan lembaga politik atau antara masyarakat dan negara. Dengan
demikian sosiologi politik bertujuan mengkaji hubungan antara fenomena sosial
yang terjadi dalam masyarakat dengan kegiatan - kegiatan politik.
8.
Sosiologi Pedesaan
Cabang sosiologi ini mempelajari masyarakat pedesaan dan segala pola
interaksi yang dilakukannya sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi
yang dipelajari dalam sosiologi pedesaan antara lain mata pencaharian hidup,
pola hubungan, pola pemikiran, serta sikap dan sifat masyarakat pedesaan dalam
kehidupan sehari - hari.
9.
Sosiologi Perkotaan
Sosiologi perkotaam mempelajari masyarakat perkotaan dan segala pola
interaksi yang dilakukan sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya. Materi
yang dipelajari antara lain mata pencaharian hidup, pola hubungan dengan orang
- orang yang ada di sekitarnya, dan pola pikir dalam menyikapi suatu
permasalahan.
10.
Sosiologi Kesehatan
Sosiologi kesehatan bertujuan mengkaji cara penerapan berbagai teori sosiologi
dalam menganalisis masalah - masalah yang berhubungan dengan kesehatan. Cabang
sosiologi ini berusaha untuk mengkaji perilaku sakit, perilaku sehat, peran
sehat, dan peran para anggota masyarakat
2.6 Teori Kajian Sosiologi
Hal-hal diatas kaitannya dengan pendekatan sosiologi, minimal ada
tiga teori yang bisa digunakan dalam penelitian, yaitu ; teori fungsional,
teori interaksional, dan teori konflik.
1. Teori
fungsional
Teori fungsional ini mengasumsikan masyarakat sebagai suatu
organisme ekologi mengalami pertumbuhan. Semakin besar dan luas pertumbuhannya,
maka semakin kompleks pula masalah-masalah yang akan dihadapi. Pada waktunya
akan terbentuk kelompok-kelompok ataupun bagian-bagian tertentu yang
masing-masing kelompok tersebut mempunyai fungsi sendiri pula, yang bisa jadi
satu kelompok memilikki fungsi yang berbeda dengan yang lain.karena perbedaan
pada bagian tadi, maka apabila terjadinya fungsi pada bagian tertentu mungkin
juga mempengaruh fungsi ada kelompook yang lain. Walaupun demikian, meskipun
antar kelompok saling mempengaruhi, namun masing-masing kelompok dapat
dipelajari sendiri-sendiri.
Dengan itu, maka yang menjadi kajian penelitian agama dengan
pendekatan sosiologi melalui teori fungsional ini adalah dengan cara melihat atau
mengamati serta meneliti fenomena-fenomena masyarakat dari sisi fungsinya.
Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dengan menggunakkan
teori fungsional ini ;
1. Membuat
identifikasi tingkah laku /aktifitas social yang problematik
2. Mengidentifikasi
konteks terjadinya tingkah laku yang menjadi objek penelitian, dan
3.Mengidentifikasi konsekuensi dari setu tingkah laku social.
2. Teori interaksionisme.
Teori interaksionisme. Sesuai namanya teori
ini mengasumsikan interaksi di dalam lingkungan masyarakat. Menurut teori ini,
didala masyarakat pasti ada hubungan ataupun interaksi antara masyarakat dengan
individu, ataupun individu dengan individu yang lain.
Teori ini sering didentifikasi sebagai sebuah
deskripsi yang sangat interpretatif, yaitu suatu pendekatan yang menawarkan dan
menggunakan analisis yang menarik perhatian cukup besar pada pembekuan sebab
senyatanya ada.
Ada beberapa kritik yang dilontarkan kepada
teori interaksionisme ini ; pertama, teori ini dituduh menggunakan
analisis yang kurang ilmiah, bahkan tidak ilmiah. Alasannya karena teori
interaksionisme ini menghindari pengujian terhadap hipotesa (praduga awal),
serta menjauhi hubungan kausalitas. Karenanya kadar keilmiahannya sangat
diragukan. Kedua, teori interaksi ini lebih terfokus pada proses sosial di
tingkat mikro dibandingkan pada tingkat makro. Ketiga, teori ini dianggap
mengabaikan kekuasaan.
Beberapa prinsip dasar yang dikembangkan oleh
teori interaksionisme ini adalah :
·
Cara individu menyikapi sesuatu atau apa saja
yang terdapat di lingkungan individu itu sendiri.
·
Memberikan makna pada fenomena yang ada
melalui interaksi sosial di lingkungan masyarakat.
·
Makna tersebut di pahami dan di modifikasi
sedemikian rupa oleh individu melalu proses penafsiran uang berhubungan dengan
hal-hal lain yang dijumpainya.
3.Teori konflik.
Teori konflik ini adalah sebuah teori yang
memiliki kepercayaan bahwa setiap masyarakat memiliki kepentingan serta
keuasaan, yang merupakan pusat dari segala hubungan sosial. menurut penganut
aliran ini nilai dan gagasan akan selalu digunakan sebagai senjata ‘utama’
untuk melegitimasi kekuasaan.
Selain ketiga teori ‘besar’ diatas, ada
beberapa teori lain ynag berhubungan dengan pendekatan sosiologi antara
laian ; teori evolusi, teori fungsionalis struktural, teori modernisasi,
teori sumber daya manusia, teori ketergantungan, serta teori pembebasan.
Dalam kaitannya agama(islam) sebagai gejala
sosial, pada dasarnya betumpu pada sosiologi agama. Pada awalnya sosiologi agama mempelajari dan membahas ‘interaksi’
antara agama dengan masyarakat. Namun pada kenyataannya sosiologi agama ini
mempelajari bagaimana agama mempengaruhi masyarakat, ataupun sebaliknya.
Maka dalam kajian sosiologi ini agama dapat berposisi sebagai
independent variable yang berarti agama mempengaruhi unsur lain. Dan juga dapat berposisi sebagai dependent
variable yang berarti agama di pengaruhi faktor lain.
Namun demikian, Al-Ghazali secara substansial
telah merumuskan kajian sosiologi ini dengan kajian hukum islam. Berpedoman
dari definisi Al-Ghazali tentang objek kajian hukum islam, bahwa penelitian
hukum islam secara garis besar ada dua ;
1. Penelitian hukum deskriptif
2. Penelitian hukum normatif.
Penelitian deskriptif sangat menekankan pada
penjelasan antara variable hukum dengan non-hukum, baik sebagai variable
dependent maupun independent. Sementara penelitian normatif adalah mengetahui
serta menetapkan status hukum.
2.7
Penerapan Pendekatan Sosiologis
Studi Islam dengan pendekatan sosiologi dapat
mengambil beberapa tema. Pertama, studi tentang pengaruh agama terhadap
perubahan masyarakat. Dalam bentuk ini studi Islam mencoba memahami seberapa
jauh pola-pola budaya masyarakat (seperti menilai sesuatu seabagai baik atau
buruk) berpangkal pada nilai-nilai agama, atau seberapa jauh struktur
masyarakat (seperti supremasi kaum lelaki) atau seberapa jauh perilaku
masyarakat (seperti pola konsumsi atau berpakain masyrakat) berpangkal pada
ajaran tertentu suatu agama. Sebagai contoh, misalnya dapat diteliti bagaimana
pengaruh ajaran waris Islam tentang bagian laki-laki dan perempuan dalam
mendorong lahirnya struktur sosial di mana kaum laki-laki lebih berkuasa dari
kaum perempuan. Dan juga misalnya bagaimana pengaruh ajaran Islam tentang
larangan riba terhadap perkembangan lembaga-lembaga perbankan Islam di dunia
yang selanjutnya mempunyai pengaruh terhadap sistem peredaran uang.
Kedua, studi tentang pengaruh struktur dan
perubahan masyarakat terhadap pemahaman ajaran agama atau konsep keagamaan.
Sebagai contoh, misalnya bagaimana pertentangan politik ahli al-sunnah wa
al-jama’ah dengan kaum Khawarij dan Syi’ah telah melahirkan konsep-konsep
teologi Islam yang berbeda-beda mengenai konsep imamah, dosa besar, dan
sebagainya.
Ketiga, studi tentang tingkat pengamalan
beragama masyarakat. Studi Islam dengan pendekatan sosiologis juga dapat
mengevaluasi pola penyebaran agama dan seberapa jauh ajaran agama itu diamalkan
oleh masyarakat. Sebagai contoh, misalnya seberapa jauh masyarakat itu
mengamalkan ajaran tentang zakat, puasa, haji, dan sebagainya. Studi evaluasi
ini juga dapat diterapkan untuk menguji atau mengukur efektifitas suatu program
seperti sistem pendidikan Islam. bisa juga untuk mengukur tingkat keberhasilan
suatu program paket pembangunan di bidang agama, seberapa jauh misalnya paket
UU Perkawinan No.1 tahun 1974 dan UU tentang Peradilan Agama No.7 tahun 1989
telah berhasil mengurangi angka perceraian atau poligami.
Keempat, studi pola sosial masyarakat Muslim.
Studi Islam dengan pendekatan sosiologis juga dapat mempelajari pola-pola
perilaku masyarakat Muslim desa dan kota, pola hubungan antar agama dalam suatu
masyarakat, perilaku toleransi beragama antar masyarakat, dan lain-lain.
Kelima, studi tentang gerakan masyarakat yang
membawa paham yang dapat melemahkan atau menunjang kehidupan beragama. Sebagai
contoh, misalnya munculnya kelompok-kelompok masyarakat Islam yang mendukung
spritualisme, sufisme, dan lain-lain yang pada tingkat tertentu dapat menunjang
kehidupan beragama.
2.8 Hubungan antara pendekatan antropologi dan
sosiologi
Seperti
sudah dijelaskan diatas, bahwa ilmu-ilmu sosial yang salah satunya adalah antropologi
dan sosiologi adalah ilmu sosial yang saling berkaitan, dikatakan saling
berkaitan disebabkan karena ilmu antropologi menjelaskan tentang manusia baik
yang menyangkut fisik maupun kebudayaan masyarakat disuatu daerah, sementara
sosiologi adalah ilmu sosial yang membahas tentang kemasyarakatannya, bentuk interaksi,
pola-pola kehidupan masyarakat. Ilmu antropologi dan sosiologi saling
melengkapi dalam praktek penelitian dalam lapangan. Penelitian sosial yang
dilakukan harus memadupadankan antara pendekatan sosiologi dan antropologi,
selain itu karena dalam penelitian sosial, harus ada kesesuaian antara pendekatan
ilmu sosial satu dengan lainnya.
Dalam
subjeknya antropologi dan sosiologi hampir memiliki kemiripan, antropologi
memiliki subjek yang memerhatikan manusia sebagai objek utamanya yang lebih menitikberatkan pada personal dan
kesatuan penduduk yang merupakan masyarakat tunggal. Tunggal dalam artian
merupakan masyarakat atau penduduk yang tinggal dalam satu daerah yang sama. Sementara sosiologi memerhatikan masyarakat dan kehidupan sosialnya.
Dalam hal ini sosiologi juga banyak mempelajari mengenai interaksi social yang
terjadi dalma suatu masyarakat. Kedua ilmu ini memiliki kemiripan karena saling
membutuhkan “manusia” dan “kebudayaan” dalam objek kajiannya.
BAB III
Kesimpulan.
Dari penjelasan
diatas dapat disimpulkan bahwa
1)
Antropologi
berasal dari dua kata Yunani, yaitu antropos berarti manusia, baik dalam arti
bahasa yaitu individu maupun dalam pengertian umum tercakup semua
aktifitas pola dan lakunya; dan logos yang berarti pemahaman atau ilmu. Jadi
dapat dirumuskan bahwa antropologi adalah suatu disiplin ilmu yang mucul karena
dorongan ingin tahu manusia terhadap dirinya dan setiap kegiatan serta pola
laku yang terkait dengannya.
2)
Sosiologi
sendiri secara etimologi berasal dari bahasa latin yaitu socius dan logos.
Socius berarti kawan, sedangkan logos berarti ilmu pengetahuan. Jadi kalau
diambil kesimpulan arti dari pendekatan sosiologi tersebut adalah suatu
landasan kajian sebuah studi atau penelitian untuk mempelajari hidup bersama
dalam masyarakat.
3)
Adapun
beberapa ciri-ciri dari ilmu sosiologi adalah sebagai berikut :
Empiris
Teoritis
Kumulatif
Nonetis
Teoritis
Kumulatif
Nonetis
4)
Objek Kajian Antropologi
yaitu antropologi fisik, antropologi budaya, antropologi psikologi, antropologi
spesialis.
a)
Antropologi
Fisik terbagi menjadi 2 yaitu paleo antropologi dan
antropologi fisik
b)
Antropologi Budaya terbagi menjadi beberapa bagian yaitu
Arkeologi
Etnografi
Etnologi
Antropologi Linguistik
Arkeologi
Etnografi
Etnologi
Antropologi Linguistik
c) Antropologi Psikologi
d)
Antropologi
Spesialis terbagi menjadi beberapa bagian yaitu
Antropologi Kesehatan
Antropologi Ekonomi
Antropologi Perkotaan
Antropologi Kependudukan
Antropologi Pendidikan
Antropologi Hukum
Antropologi Sosial
Antropologi Forensik
Antropologi Pembangunan
Antropologi Terapan
Antropologi Pendidikan
Antropologi Hukum
Antropologi Sosial
Antropologi Forensik
Antropologi Pembangunan
Antropologi Terapan
5)
Cabang
- Cabang Sosiologi
1.
Sosiologi Pendidikan
2.
Sosiologi Agama
3.
Sosiologi Hukum
4.
Sosiologi Keluarga
5.
Sosiologi Industri
6.
Sosiologi Pembangunan
7.
Sosiologi Politik
8.
Sosiologi Pedesaan
9. Sosiologi Perkotaan
10. Sosiologi Kesehatan
6)
Hubungan antara pendekatan antropologi dan
sosiologi
Antropologi dan sosiologi adalah ilmu sosial
yang saling berkaitan, dikatakan saling berkaitan disebabkan karena ilmu
antropologi menjelaskan tentang manusia baik yang menyangkut fisik maupun
kebudayaan masyarakat disuatu daerah, sementara sosiologi adalah ilmu sosial
yang membahas tentang kemasyarakatannya, bentuk interaksi, pola-pola kehidupan
masyarakat. Ilmu antropologi dan sosiologi saling melengkapi dalam praktek
penelitian dalam lapangan. Penelitian sosial yang dilakukan harus
memadupadankan antara pendekatan sosiologi dan antropologi, selain itu karena
dalam penelitian sosial, harus ada kesesuaian antara pendekatan ilmu sosial
satu dengan lainnya.
Saran
Antropologi dan sosiologi merupakan ilmu
sosial yang memilki banyak mafaat agi kehidupan sosial, karena pada dasarnya
dikehidupan itu sendiri telah menerapkan pendekatan antropologi. Dan alangkah
baiknya bila kita mempelajarinya
Komentar
Posting Komentar